Tak Sekedar Harapan


Wah ini dalem bgt rasanya. Sudahlah hanya orang-orang tertentu yang mo baca artikel ngawur kayak gini. Berharap bgt sih kamu ini...,, “Owh jadi gitu, y sudah sekarang tinggal tutup saja halaman ini, tapi da satu resiko yaitu yang baca bakalan gak bisa tidur karena penasaran gak baca lanjutan artikel ini”...Oke deh aku baca...(ekspresi terpaksa)...

Tak Sekedar Harapan, mungkin itu yang dirasakan “para wong cilik Republik Indonesia” sekarang yag masih setia terus berharap-harap memperoleh kesejahteraan. Dan dirasakan juga para karyawan yang berharap naik jabatan. Berbagai wacana telah mereka ungkapkan disana-sini untuk memperoleh perhatian dari para Sang Pemberi Harapan. Mmh ironis memang. Dulu saya pernah nonton sebuah film serial drama korea yang berjudul “The Queen of Seondeok” (bkn maksud promosi loh...) dan si pemeran utama mengatakan bahwa kekuatan sebuah pemerintahan adalah harapan rakyatnya. Kalau begitu Indonesia adalah negara yang kuat donx... Yah terserah persepsi anda-anda semua deh. Indonesia emang negara kuat kok, terbukti tahan banting dalam hal apapun. Termasuk dalam hal krisis moneter. Gak percaya? Harus percaya.
Mukanya jgn gitu deh, keningnya ampe mengkerut gitu. Rileks...rileks...Lanjutkan bagi yang penasaran...


Tak Sekedar Harapan, tak sedikit loh yang menggantung harapannya kepada Pa Presiden. Apa iya? Ya iyalah secara Pa Pres merupakan lalakon dalam “Sandiwara Dunia Republik Indonesia”. Tapi kasihan juga ya Pa Pres lebih banyak “caciannya” (maaf) daripada “pujiannya”, betul tidak?. Ya itukan resiko. Resiko bagi orang yang peduli terhadap harapan orang banyak. Siapa bilang Pa Pres tidak mendengar ocehan kita disana-sini. Saya yakin beliau memikirkan umatnya alias rakyatnya terlihat dari kantung matanya yang hitam. Pasti tiap malam susah tidur gara-gara mikirin rakyatnya yang lagi berteater sambil bakar ban dan mengibar kain-kain kebanggaannya. Yang menuntut maupun yang berdalih sebagai “pendukung”. Apa iya?. Berfikir positif saja. Coba anda bayangkan gimana Pa Pres mo tidur tenang di setiap sudut ada titik hitam yang harus dibersihkan, tapi para pembersihnya malah berevolusi menjadi titik hitam yang lebih besar. Uang memang menggiurkan. Para pembersih malah tergoda dengan sesuatu yang mengotori hati, pikiran, dan perutnya. Apa gak takut ya sama “Yang Menciptakan”. Takut sih iya, tapi sekarang lebih banyak orang yang takut kelaparan dan kehilangan jabatan juga takut tak terpenuhi keinginan. Kasihan sekali. Pengen nangis. Menangis karena hati yang teriris. Tapi hebatnya rakyat Indonesia tetap senang terbukti banyaknya penonton OVJ (opera Van Java)...Itu hebatnya Indonesia. Jangan nyindir gitu deh. Loh itu kan gak salah...

Tak Sekedar Harapan, agent og change juga memiliki peran harapan tersendiri. Ya para mahasiswa yang melakukan orasi-orasi berharap suaranya disimak bukan sekedar didengar. Tak sedikit agent of change yang mendapat sambutan hangat dari Satpol PP bahkan bukan hangat lagi lebih mendekati panas tepatnya. Saat ditanya apakah mesti berkoar-koar alias demo atau bahasa kerennya aksi seperti itu? Apakah efektif?. Sebagian ada yang terdiam, tapi ternyata ada satu yang menanggapi. Katanya, “Ya itu yang bisa kita lakukan, soalnya kita bukan pengambil kebijakan”. Ada benarnya juga. Seandainya ada yang lebih efektif lagi untuk menempatkan agent of change lebih baik. Masalahnya sekarang para agent of change lebih tertarik berpidato daripada berkarya. Bahkan yang lebih parah lebih banyak agent of change yang berubah menjadi agent of style atau agent of hedonis bahkan agent of apatis. Gregetan memang. Mudah-mudahan tidak ada yang tersindir. Saya lebih suka ungkapan iklan rokok, “Talk less do more”. Keren menurut saya. Namanya juga opini.
Akhir dari artikel ini mudah-mudahan bermanfaat. Dan semoga Republik Indonesia bukan sekedar panggung sandiwara, tapi panggung perubahan. Itu tak sekedar harapan loh...
Sampai jumpa dicelotehan-celotehan selanjutnya...

No comments:

Post a Comment

Subscribe